Pages

Tuesday, April 22, 2014

Memahami Penderitaan

Pernahkah anda merasa menderita karena berada pada suatu tempat yang kurang anda sukai? Saya memiliki seorang teman sering merasakan hal itu, terutama saat harus pergi ke daerah baru dengan kebudayaan baru. Dia akan merasa sanagat menderita karena hal tersebut, walaupun saya tetap dapat merasa damai dan bahagia di tempat yang sama. Saat saya mengingat hal itu saya merasa sedikit tergelitik untuk menelaah mengapa teman saya itu menderita.

Sebelum saya berpikir mengapa dia dapat menderita, saya berpikir apa itu penderitaan. Saya yakin tiap orang memiliki definisi yang berbeda bila ditanya apa itu penderitaan.  Beberapa orang menyatakan bahwa penderitaan adalah hilangnya makna akan sesuatu, dan teman yang lain menyatakan bahwa penderitaan adalah kondisi tidak senang atau tidak nyaman akan sesuatu. Ada yang menyatakan bahwa penderitaan adalah suatu rasa sakit akibat tidak mau menyadari dan menerima kehendak Tuhan. Ada juga  yang bilang bahwa penderitaan itu cobaan. Dari sana saya mulai melihat bahwa kata kunci dari penderitaan adalah tidak senang, tidak nyaman, tidak mau menerima. Bila digeneralisasikan, bisa dikatakan penderitaan disebabkan oleh satu kata, penolakan.

Penolakan atau suatu tindakan tidak menerima sesuatu memang menjadi sumber utama dari penderitaan. Jadi penderitaan bukan berasal dari orang tertentu, barang tertentu atau kondisi tertentu. Penderitaan berasal dari bagaimana kita melihat sesuatu. Apakah kita dapat menerima nya atau melakukan penolakan akan hal itu.Kebanyakan orang berkata bahwa apabila mereka memiliki harta yang berlimpah, mereka akan bahagia. Namun di cerita cerita sering digambarkan seorang putri yang memiliki harta berlimpah, istana yang megah, dengan lusinan pelayan namun tidak bahagia dan merasa menderita. Sang Putri ini menderita karena terdapat penolakan pada dirinya tentang kondisi nya sebagai orang yang harus bersikap layaknya seorang putri. Bila dia dapat menerima hal itu dengan lapang dada tentu tidak akan menderita. Di cerita lain seorang pengusaha yang merasa menderita karena tidak sesuai dengan targetnya. Hal tersebut juga disebabkan oleh penolakan dirinya dengan kondisi yang dialaminya. Bukan kondisi itu yang menyebabkan penderitaan, namun keadaan dimana dia menolak realita bahwa kondisi sekarang tidak sesuai dengan ekspektasi nya. Begitu juga saat seseorang merasa menderita karena mengetahui sesuatu yang tidak sesuai dengan yang dia inginkan. Dia menolak kenyataan itu dan akhirnya dia yang menderita

Jadi salah satu cara paling mudah untuk tidak menderita adalah dengan menerima apa pun yang terjadi, toh hal yang memang kita dapatkan adalah hal yang layak kita terima. Kita layak karena di masa lalu kita pernah menanam hal tersebut, seperti pribahasa Bahasa Indonesia, ada asap ada api. Terkadang ada hal hal yang tidak dapat kita rubah, jadi bila itu tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, akan lebih mudah mengubah cara pandang kita dan terima lah hal hal tersebut. Tanpa penolakan, hidup akan terasa jauh lebih indah. Ingat penolakan pada apa yang diberikan Tuhan bisa dikatakan sebagai penolakan pada Tuhan. Jadi terima apa yang anda dapatkan seperti anda menerima Tuhan.

Begitu juga teman saya yang saya ceritakan diatas merasa menderita karena dia belum bisa menerima kebudayaan dan orang orang yang tidak sesuai dengan apa yang dia mau. Bila dia dapat menerima kebudayaan, orang orang dan kondisi lingkungan ditempatnya tentu dia akan tetap merasa bahagia dimana pun dia berada.

Jadi masih ingin menolak hal  hal yang ada di sekitar anda?

Mahotama Seputra

Nb. Semua yang saya tulis akan lebih mudah anda mengerti bila anda memahami energi seperti yang diajarkan pada Basic of Inner Power oleh Yayasan Cahaya Cinta Kasih.


Thursday, April 17, 2014

Mengapa Harus Marah?

Apakah amarah adalah suatu yang wajar? Pertanyaan itu muncul di benak saya setelah mendengar keluhan dari beberapa teman yang terpancing amarah nya karena sesuatu hal. Sebagian marah karena hal yang masih masuk dalam logika saya, seperti saat seseorang memakai barang nya tanpa izin, dan sebagian dari mereka terpancing akan hal yang menurut saya sedikit diluar logika, seperti  saat temannya mendapat nilai yang lebih baik. Kebanyakan dari mereka akan berkata “wajar dong gua marah” atau “emang lo kalo digituin gak kesel” saat dengan polosnya saya bertanya pada mereka alasan mereka marah, seakan-akan marah adalah hal yang wajar, dan tidak marah adalah hal yang aneh. Ya mungkin saya yang aneh karena kebanyakan cerita mereka tidak dapat membuat saya memilih untuk marah.

Tidak jarang juga saya melihat di film film, terutama film film fantasi, dimana karakter utama akan mendapatkan kekuatan yang baru atau lebih kuat saat mereka marah. Sebut saja Hulk, Wolverine, Kamen Rider Black Rx, Naruto, dan masih banyak lagi. Hal tersebut membuat saya kembali bertanya apakah marah adalah hal yang baik?

Kata dasar dari kemarahan adalah marah, yang menurut kamus besar bahasa indonesia dijabarkan menjadi “sangat tidak senang”. Tapi menurut saya sangat tidak senang belum tentu marah. Bisa saja seseorang sangat tidak senang dengan durian (seperti saya) namun sampai sekarang saya tidak pernah marah dengan durian. Karena saya yakin, saya akan terlihat sangat bodoh bila saya melakukan hal itu. Sumber kedua yang saya temukan adalah dari Cambridge Dictionary Online yang menyatakan anger (bahasa inggris dari marah) adalah” a strong feeling that makes you want to hurt someone or be unpleasant because of something unfair or unkind that has happenedatau dapat diterjemahkan menjadi suatu perasaan yang kuat yang membuat anda memiliki keinginan untuk melukai seseorang, atau rasa tidak senang karena sesuatu yang tidak baik atau tidak adil terjadi.

Hal yang perlu digaris bawahi adalah kata keinginan untuk melukai seseorang. Sebaiknya kita tidak memiliki keinginan untuk melukai orang lain, karena dengan kita melukai orang lain sebenarnya kita juga melukai diri sendiri. Dalam injil dikatakan perlakukan lah orang lain sebagaimana dirimu ingin diperlakukan. Nasihat itu haruslah selalu diingat karena memang itulah kunci dalam hidup ini. Bukankah saat ada orang yang melakukan kebaikan pada kita, kita akan lebih cenderung memperlakukan dia dengan baik juga. Jadi bila kita memiliki keinginan untuk melukai orang, maka akan menyebabkan orang lain memiliki keinginanun untuk melukai kita juga. Harus diingat bahwa dengan pemahaman tentang hukum energi, kita akan memahami bahwa karma atau dosa tidak terjadi hanya pada saat kita sudah melakukan suatu tindakan, namun sudah mulai tercatat saat kita memikirkan hal tersebut. Jika memang hanya tercatat saat kita melakukan tindakan terntu nasihat yang tertulis di kitab kitab suci hanyalah berbuat yang baik, tapi bukankah di semua kitab kita di sarankan untuk tidak hanya berbuat yang baik tapi juga berpikir yang baik.

Kemarahan juga sering diibaratkan dengan api. Mungkin simbol api ini yang menyebabkan banyak film film yang membuat marah menjadi pemicu dalam munculnya kekuatan terpendam seseorang. Memang benar bahwa tidak jarang kekuatan terpendam seseorang muncul pada saat api itu berkobar. Namun jika tidak hati hati, api itu akan membakar habis semua yang ada disekitarnya. Dengan analogi tersebut kita dapat membayangkan orang yang kekuatanya bersumber dari api amarah sebenarnya sedikit demi sedikit terbakar oleh amarahnya sendiri. Mereka layaknya orang yang membuat api unggun didalam rumah. Walaupun api itu awalnya kecil, makin lama dia akan makin besar dan membakar rumah itu. Jadi lebih baik kita tidak menyimpan api di dalam diri kita. Tuhan sudah memberikan panas yang tepat dalam tubuh kita pada hasil metabolisme dan pembakaran zat zat yang sudah diatur sedemikian rupa, tidak perlu kita tambah dengan api kemarahan.

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana agar amarah tidak timbul. Kembali pada pengertian dari kamus inggris-inggris Cambridge, kemarahan akan timbul apabila ada hal yang tidak mengenakan atau hal yang tidak adil (menurut diri kita). Sebenarnya kunci untuk tidak marah adalah memilih untuk tidak marah. Namun bila itu masih susah anda lakukan, anda dapat berusaha jangan sampai ada hal yang tidak adil dan tidak mengenakan terjadi pada hidup kita. Bisakah hal itu dijaga?

Bagaimana agar tidak ada hal yang tidak adil yang terjadi pada hidup kita. Yang paling penting adalah mengubah sudut pandang kita agar hal hal yang terlihat tidak adil menjadi adil. Kita harus sadar bahwa ke-adil-an yang digunakan disini adalah keadilan Tuhan, bukan keadilan bagi saya, anda atau orang lain. Dan percayalah Tuhan yang maha adil tidak akan bertindak tidak adil. Orang yang mendapat sesuatu pastilah pantas mendapatkannya dan orang yang kehilangan sesuatu pasti pantas kehilangan hal tersebut. Bila anda masih penasaran, pelajarilah energi, karena dengan memahami energi kita akan dapat memahami yang selama ini susah dipahami. Karena dengan energy pengukuran akan lebih mudah dan objektif, kita dapat mengukur hutang maupun tabungan yang dibawa oleh seseorang, yang akan menentukan apakah orang tersebut nantinya akan kehilangan sesuatu (dalam hal ini sebenarnya membayar hutang nya) atau mendapat kan sesuatu dengan mudah (menarik tabungan).

Point berikutnya adalah bagaimana kita membuat hal yang datang pada kita adalah hal yang menyenangkan, agar hal hal yang kurang menyenangkan tidak datang pada kita. Yang perlu kita lakukan adalah mengatur diri sendiri menjadi menyenangkan dan tidak menyebalkan. Karena hukum energy adalah yang sejenis menarik sejenis. Bila anda memikirkan terus hal hal yang menjengkelkan, menyebalkan dan sial maka itulah yang akan terjadi dan anda jadi punya alasan untuk marah. Tapi kalau anda menarik dan memikirkan hal yang baik dan menyenangkan maka hal yang menyenangkan juga yang akan datang pada anda.

Bila anda sudah melakukan hal itu dan masih mengalami hal hal kurang mengenakan, kita lihat lagi tabungan karma/dosa yang masih ada pada rekening anda. mungkin itu hanyalah jatuh tempo nya karma/dosa/hutang anda. dan itu adalah hal yang adil. Jadi berpikir dua kali lah untuk marah, dan jangan biarkan api marah itu membakar diri anda. karena bagaimana pun menang jadi abu kalah jadi arang. Sama sama hangus.

Nb. Semua yang saya tulis akan lebih mudah dimengerti bila anda sudah memahami energy.



Tuesday, April 15, 2014

Ketidakadilan Yang Adil

Sering kita berpikir bahwa dunia ini tidak adil. Memang bila kita melihat dengan kacamata kita, akan banyak sekali bukti bukti yang mendukung pernyataan bahwa dunia memang tidak adil, mulai dari anak yang keliatan tidak pernah belajar namun selalu bisa mengerti dengan cepat, seorang penjahat yang banyak melakukan kejahatan yang merugikan banyak orang, namun tetap dapat hidup dengan sangat bahagia. Yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Ada orang yang selalu beruntung dan ada orang yang selalu tertimpa kesialan. Benar benar terlihat sebagai dunia yang sangat tidak adil.

Salah satu orang yang saya hormati pernah berkata bahwa dunia itu tidak adil, dan keadilan hanya ada di surga. Dari pernyataan itu muncul suatu pertanyaan pada benak saya, apakah benar bahwa dunia ini tidak adil? Bukankah dunia ini diatur oleh Dia Yang Maha Adil? Bagaimana mungkin sumber keadilan menjalankan sesuatu yang tidak adil? Menurut saya hal tersebut sangatlah tidak masuk di akal sehat saya.

Setelah mencoba mencerna hal tersebut saya mulai sadari bahwa keadilan adalah sesuatu yang sangat subjektif. Dan setiap kita berpikir bahwa sesuatu itu tidak adil, kita harus berpikir kembali, ini tidak adil bagi siapa. Mungkin bagi seorang buruh ketidakadilan adalah saat mereka bekerja bermandikan keringat dan mendapat upah yang minimal sedangkan boss mereka yang hanya duduk di balik meja mendapatkan penghasilan yang berlipat lipat ganda. Atau ketidakadilan adalah saat seseorang berbuat baik namun hasilnya tidak sesuai dengan harapanya. Atau seseorang yang berusaha untuk belajar sesuatu dengan susah payah melihat temannya yang berhasil menguasai suatu keahlian tanpa susah payah. Apakah hal hal tersebut benar benar tidak adil?

Keadilan adalah konsep yang dibuat oleh manusia dan sampai sekarang pun keadilan belum memiliki pengertian yang pasti. John Rawls dalam bukunya "the Theory of Justice" menyatakan bahwa adil adalah kesetaraan bagi semua orang. Mungkin konsep ini yang dipegang oleh kebanyakan orang yang merasa bahwa hidup ini tidak adil. Dan apabila kita memegang konsep ini, maka memang dunia ini tidak adil. Kita lihat bahwa tiap orang terlahir dengan tidak sama. Sebagian terlahir sebagai lelaki, sebagian sebagai perempuan, sebagaian terlahir di keluarga kaya raya, sabagian terlahir di kolong jembatan. Sangat tidak adil.

Beda lagi dengan konsep yang diusung oleh aristoteles. Menurut aristoteles keadilan dibagi menjadi keadilan distributif dan keadilan kumulatif. Disini kita lebih membahas tentang keadilan distributif, karena keadilan kumulatif biasanya lebih ditekankan pada perjanjian perdagangan dll. Keadilan distributif adalah suatu keadilan yang memberikan kepada setiap orang didasarkan atas jasa-jasanya atau pembagian menurut haknya masing-masing.

Bila mengacu pada hukum keadilan distributif ini mungkin masih terlihat agak tidak adil. Karena dua jabang bayi yang secara logika belum melakukan apa pun,kecuali membuat si ibu mual mual dan mules mules, dapat mengalami nasib yang sangat berbeda. Namun saya yakin bahwa nasib yang berbeda tersebut pasti memiliki alasan. Saya yakin hal tersebut bukan karena Tuhan sedang iseng atau mengirim jiwa untuk lahir secara random.

Hal tersebut hanya dapat menjelaskan bahwa sebelum jiwa tersebut datang pun mereka sudah membawa tabungan sendiri. Beberapa menyebutnya dosa asal, beberapa menyebutnya karma dan beberapa lain menyebutnya nasib. Namun intinya mereka sudah membawa tabungan mereka sendiri. Seberapa banyak tabungan baik yang mereka bawa sangat tergantung dari bagaimana mereka menjalankan hidup mereka di kehidupan lalu. Karena sekali lagi saya yakin Sang Maha Adil tidak akan iseng memberi bekal yang berbeda atau memberi bekal yang random pada jiwa jiwa tersebut.

Mereka yang sudah menanam banyak kebajikan akan terlahir di keluarga penuh kebajikan. Mereka yang sudaha menanam banyak kemakmuran akan lahir di keluarga yang banyak kemakmuran.Hal ini dapat dilihat juga pada orang orang berbakat yang tampaknya hanya perlu sedikit usaha untuk menguasai sesuatu karena di kehidupan kehidupan sebelumnya orang tersebut sudah belajar hal yang serupa. Sedangkan bagi mereka yg berbuat jahat namun tetap dapat hidup enak, mungkin tabungan nya sedang di depositokan jadi tinggal menunggu tanggal jatuh temponya dan dia akan mendapatkan apa yang seharusnya diandapatkan.

Setelah merenungkan semua hal diatas, saya jadi berpikir. Ternyata ketidakadilan bagi banyak orang sebenernya adalah keadilan bagi Tuhan.. Benar benar ketidakadilan yang adil.

-Mahotama Seputra-

nb. materi yang saya tulis akan lebih mudah dimengerti bila anda sudah memiliki pemahaman tentang energi.

Friday, April 11, 2014

Kebijaksanaan yang sejati

By Mahotama Seputra

nb : mohon baca "kenali diri anda lebih baik" sebelum mebaca post ini

Pernahkah anda mengambil keputusan dan ternyata hasil dari keputusan tersebut tidak baik? Hal tersebut pasti sering anda alami dalam hidup ini, dimana kita dihadapkan pada dua, tiga atau bahkan lebih dari tiga pilihan dan kita diminta untuk mengambil satu pilihan.

Dulu, saat saya dihadapkan pada pilihan pilihan yang saya belum berani untuk menentukan sendiri, saya sering mendapat nasihat untuk bertanya atau meminta saran pada orang yang lebih tua. Diharapkan lama hidup yang lebih, banyaknya asam garam yang dirasakan akan membentuk kebijaksanaan. Bahkan di cerita cerita yang saya baca, apabila akan melakukan sesuatu, seorang raja akan menghadap pada tetua untuk meminta pertimbangan yang lebih bijaksana.

Saya mulai berpikir, apakah kebijaksanaan itu? Apakah tua selalu bijaksana? Menurut kamus, arti dari kata bijaksana adalah bertindak sesuai dengan pikiran, akal sehat sehingga menghasilkan perilaku yang tepat, sesuai dan pas.

Suatu perilaku yang tepat, sesuai dan pas masih merupakan suatu definsi yang mengambang bagi saya. Tepat menurut siapa? Pas dengan apa? Sesuai dengan apa? Apabila hanya mengacu pada definisi itu berarti orang yang menghabiskan uangnya untuk berfoya foya merupakan orang yang bijaksana juga dong. Toh yang dia lakukan tepat dengan kondisinya saat itu diaman dia memiliki uang untuk berfoya foya, pas dengan kondisinya saat itu yag perlu hiburan dan sesuai dengan kehendak nya pada saat itu.

Mungkin tepat dan pas disini bukan menurut orang orang tersebut, mungkin yang dimaksud adalah menurut norma yang berlaku. Tapi norma yang berlaku itu berbeda pada tiap daerah. Kita perlu pengukuran atau aturan yang lebih universal dimana bisa dijadikan acuan bagaimana bertindak dengan bijaksana.

Dengan pemahaman tentang energi dimana energi adalah hal universal yang tidak bisa dibohongi dan objektif, kita dapat melakukan pengukuran tersebut dan dengan itu kita pastinya akan menjadi lebih bijaksana. Karena apa pun yang kita lakukan dapat sesuai dengan hukum yang universal dan kebenaran yang utuh. Kebenaran dan hukum Tuhan.

Namun sebagian dari kita tidak percaya diri atau bahkan memilih untuk tidak menggunakan pengetahuan itu walaupun pengetahuan itu sudah diberikan pada kita, mungkin karena kurang percaya diri, takut dengan kebenaran yang akan diterima saat melakukan pengukuran, atau alasan alasan lain yang dapat dibuat buat. Saya melihat itu seperti seorang dokter yang memilih untuk tidak memeriksa tekanan darah pasien padahal stetoskop dan spygmanometer sudah ada di depanya, seperti seorang arsitek atau ahli teknik sipil yang tidak mau menggunakan waterpass dalam membuat bangunan atau seorang pedagang yang tidak mau menggunakan timbangan dalam berjualan.

Memang semua itu adalah pilihan, apakah kita menggunakan alat tersebut atau tidak, namun bila alat tersebut sudah ada di depan mata kita dan tidak kita gunakan, ya kita tidak dapat mendapatkan hasil yang baik dan bijaksana. Karena kebijaksanaan adalah melakukan hal yang benar, pada saat yang benar sesuai dengan hasil pengukuran yang tepat yang dapat didapatkan dari pemahaman tentang energy.

Jadi apabila alat ukur sudah ada digenggaman anda, pilihan yang bijak adalah dengan mulai mengukur sebelum mengambil keputusan

Nb. Semua yang saya bahas akan lebih mudah dipahami bila anda sudah memiliki pemahaman tentang energy.

Kenali dirimu lebih baik

Thales, seorang filsuf yang terlahir di Turki pernah berkata “the most difficult thing in life is to know yourself”atau bila di terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia akan bermakna “hal yang tersulit dalam hidup adalah mengetahui (tentang) dirimu (sendiri)” Yang dikatakan oleh Thales memanglah benar. Kita akan sangat susah mengetahui apa yang ada pada diri kita karena pikiran kita akan sangat susah bersikap objektif pada diri kita. Pikiran akan sangat dipengaruhi oleh ego. Orang dengan ego yang kuat akan selalu melihat dirinya baik, tidak dapat melihat kekurangan dalam dirinya, sedangkan orang dengan ego yang rendah akan melihat yang sebaliknya, semua hal buruk dan tidak dapat melihat hal baik dalam dirinya.

Sama seperti saat kita ingin melihat muka kita dengan mata kita sendiri. Sangat susah. Namun kita dapat melakukan nya degan bantuan alat, misalnya cermin. Namun cermin hanya memantulkan bagian terluar dalam diri kita, bukankah kita tidak hanya perlu mengenal diri kita bagian luar saja? lalu bagaimana cara kita lebih mengenal diri kita?

Ada cerita tentang seorang pemabuk yang bertemu dengan seorang biksu di jalan. Sang pemabuk memanggil sang biksu untuk mendekat. Sang pemabuk lalu bersila dan mengambil posisi seperti posisi Budha duduk dan bertanya pada sang Biksu. “ Hey biksu kampung, apakah kamu tahu aku terlihat seperti apa?” dan sang biksu dengan tenang menjawab “seperti sang Budha, wahai anak muda” lalu sang pembuk kembali bertanya “ dan tahukah kamu, kamu terlihat seperti apa?” biksu itu hanya menggeleng menunggu sang pemabuk melanjutkan jawabanya “seperti TAI!! Bau, kotor dan menjijikan” kata sang pemabuk diikuti tawa yang sangat kencang, namun sang Biksu tidak marah sama sekali dan berkata dengan penuh ketenangan “seseorang dengan Budha di dalam diri nya akan melihat Budha di sekelilingnya, dan seseorang dengan Tai didalam dirinya akan melihat tai di sekelilingnya

Dari cerita tersebut dapat disimpulkan bahwa kita dapat lebih mengetahui diri kita dengan menyadari apa yang kita lihat pada orang lain. Bila kita dengan sangat mudah melihat orang lain selalu iri, coba dilihat kedalam, apakah masih ada rasa iri dalam diri kita. Begitu juga bila melihat orang yang marah marah tanpa sebab yang jelas, berarti di dalam diri kita masih ada kemarahan.

Namun apakah itu sepenuhnya benar? Bagaimana bila memang orang itu saja yang memiliki keburukan itu dan kita hanya cukup objektif untuk mengenalinya? Bisa saja itu terjadi, karena itu sangat diperlukan suatu alat bantu untuk dapat secara objektif metahui apa yang ada dalam diri kita.

Apakah alat tersebut? Pengukuran dengan energy bisa menjadi jawaban yang paling tepat. Karena dengan pengukuran dengan energy kita dapat benar benar tahu apa yang ada dalam diri kita. Jangankan apa yang ada dalam diri kita, jumlahnya pun dapat kita ketahui. Apalagi energi tidak terikat dengan ruang dan waktu, yang berarti kita dapat mengukur keadaan kita kemarin tahun lalu, bahkan saat kita lahir.

Namun ada suatu hukum energy yang dapat “sedikit menyusahkan” yaitu energy mengikuti pikiran, dan kembali pada poin pertama, pikiran kita akan selalu melihat kita baik, bila ego kita kuat, atau melihat hal yang jelek, bila ego kita lemah. Lalu bagaimana caranya? Kita harus berserah pada Tuhan dan menjadi saluran yang baik bagi kebenaran Tuhan. Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan melakukan konekting, dan penyerahan diri secara penuh pada Tuhan. Dengan melakukan hal tersebut kita akan menjadi saluran Tuhan dan kita akan mendapatkan jawaban yang benar dan tepat.

Dan inilah satu satunya cara termudah untuk megetahui dan mengerti diri anda. jadi apa yang dikatakan oleh Thales tadi benar apabila anda tidak memahami dan menggunakan energy dalam pengukuran dengan baik dan benar. Karena bila hanya memahami tapi tidak melakukan sama saja anda tidak dapat hasil apa apa.

Jadi pelajarilah energy, berserah diri pada Tuhan dan kenali diri anda lebih baik
Written by : Mahotama Seputra

Nb. Semua yang saya bahas akan lebih mudah dipahami bila anda sudah memiliki pemahaman tentang energy.

Thursday, April 10, 2014

Bahaya Kata Gratis

Gratis adalah kata yang indah di telinga kita. Namun sadarkah kita bahwa kata yang terdiri dari enam huruf ini mengandung sesuatu yang lebih dalam dan bila tidak kita mengerti, tanpa sadar dapat menyeret kita kedalam kesusahan finansial.

Secara harafiah gratis dapat diartikan sebagai tidak menukarkan apapun untuk mendapat sesuatu. Ini adalah suatu konsep yang bertolak belakang dengan hukum alam yang tanpa kita sadari berlaku dalam hidup ini.

Mungkin anda bertanya tanya bagian mana dari gratis yang bertolak belakang dengan hukum alam. Namun begitulah kenyataanya. Tidak ada hal yang gratis di hidup ini. Semua hal yang kita terima haruslah ditukar dengan "harga" yang sepadan. Hal itu tercermin dalam hidup kita. Mari kita ambil contoh yang sederhana, bernapas. Sadarkah anda bahwa selama ini anda "membayar" untuk setiap oksigen yang anda hirup? Saya tidak berbicara tentang oksigen yang tersedia di rumah sakit yang memang harus anda bayar setiap liter per menit nya. Saya berbicara tentang oksigen diudara bebas. Sadarkah anda saebelum anda menghirup oksigen tersebut anda "harus membayar" dengan karbon dioksida ? Begitu juga dalam tiap detak jantung yang terjadi, yang selama ini anda kira gratis, sebenarnya kita bayar dngan energi (apa bila dijabarkan maka akan ada pertukaran antara adenosin triphospat yang "membayar" phospat untuk energi yang digunakan untuk tiap detak nya). Jadi jangan salahkan kalau zaman sekarang buang air kecil pun harus membayar, toh dari zaman dulu bernapas pun kita harus bayar.

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana gratis itu dapat menyusahkan kita. Semua yang terjadi di dunia ini haruslah mengikuti hukum alam yang terjadi. Selain hukum "equivalent trade - pertukaran yng adil" ada juga hukum yang menyatakan energi mengalir dari tingkat yang tinggi ke tempat yang rendah. Ke tempat yang kosong dari tempat yang penuh. Sekarang bila tidak ada perubahan "kepenuhan" energi maka tidak akan ada perbedaan yang merupakan syarat terjadinya aliran energi. Karena kemakmuran, uang dll didasari oleh energi, tidak akan ada aliran uang ataupun kemakmuran yang akan terjadi. Tidak hanya uang, kesehatan, pelajaran dan kesadaran pun baru bisa mengalir bila ada perbedaan dari level energi, dan perubahan level energi tersebut hanya akan terjadi dengan "membayar" sesuatu.

Lalu apa hubunganya dengan berpikir gratis? Kita harus ingat bahwa energi mengikuti pikiran. Dan dengan berpikir gratis atau tidak mau membayar, tidak ada perbedaan energi, dan tidak akan ada energi yang mengalir. Saya mencoba mengamati, beberapa orang yang diberikan sesuatu secara gratis, hasilnya tidak akan sebagus yang membayar.

Lalu bagaimana kalau ada orang yang memberikan sesuatu secara gratis pada kita? Apakah kita harus bersikeras membayar? Jawabanya iya dan tidak. Iya bahwa kita tetap harus membayar, namun tidak harus berupa uang. Dengan mendoakan dan memberkati agar donasi yang diberikan kembali ke pemberi donasi berlipat ganda sudah dapat menjadi pembayaran yang cukup. Jadi buang jauh jauh pikiran gratis Agar hal hal baik dapat mengalir pada kita, karena tanpa sadar pikiran gratis tersebut menghambat aliran menuju diri kita.

Masih ada yang mau hal yang gratisan?

writed by : Mahotama Seputra

Nb. Semua yang saya bahas disini akan lebih mudah dimengerti bila anda memahami energi.

Thursday, September 16, 2010

Atma Namaste

Atma Namaste..


Atma Namaste adalah salam yang biasa digunakan oleh orang hindu (di india) untuk saling bertegur sapa. Sebenarnya ini bukanlah sekedar salam biasa. Karena di dalamnya terdapat pesan yang sangat dalam dan bisa kita cerna.

Atma Namaste berarti kita menyadari jiwa didalam diri anda. Dan karena jiwa adalah sutu hal yang ilahi, karena jiwa adalah percikan kecil dari Tuhan, dengan menyadari atma atau jiwa dalam diri orang lain, berarti kita menyadari ke-Ilahi-an dalam orang itu. Bagaimana mungkin orang memiliki ke-Ilahi-an? Kenapa tidak? Kita dibentuk berdasarkan citraNya, kita diciptakan berdasarkan sifatNya, jadi PASTI ada ke Ilahi-an dalam diri setiap manusia.

Lalu apa untungnya kita menyadari ke Ilahi-an dalam diri orang lain? Dengan dapat menyadari bahwa dalam tiap orang memiliki ke-Ilahi-an, bagaimana mungkin kita saling menyakiti? Kan itu sama dengan menyakiti Tuhan..

Jadi dengan mencoba memahami ATMA NAMASTE kita menjaga kelakuan kita, pikiran kita, dan perbuatan kita ke pada orang lain, karena kita melihat ke-Ilahi-an dalam tiap insan.

Satu hal lagi, karena ini digunakan oleh umat hindu, bukan berarti hanya orang Hindu yang dapat mengucapkanya. Semua bisa.. Karena Jiwa adalah universal dan Tuhan juga universal.. :)
Mari sama-sama kita mengucapkanya
ATMA NAMASTE